프리실라의 돈 – Peurisillaeui Don –

“Aku… aku nggak suka ada orang yang mendapat nilai diatasku!”

“Nilai itu nggak penting, Himi! Nilai sempurna tidak membuatmu menjadi lebih baik dari yang lain!”

Berisik sekali.

Hanya karena nilai, mereka jadi bertengkar sampai segitunya. Haruskah para siswa mengejar nilai? Kalau nilai itu jadi tolak ukur atas kemampuan kita, bagaimana dengan orang-orang yang mencontek tapi tidak ketahuan? Mungkin akan ada yang bilang kalau mencontek, rasa bersalah nggak akan hilang. Tapi lihatlah kenyataannya, di jaman sekarang ini, siapa yang merasa bersalah kalau nyontek? Mungkin masih ada banyak, tapi yang nggak merasa bersalah ada banyak pula.

Nilai memang bisa dijadikan tolak ukur kemampuan kita masing-masing.

Tapi apakah kita harus memiliki nilai yang sempurna untuk semua mata pelajaran?

Memang benar, nilai sempurna tidak membuatmu menjadi lebih baik dari yang lain. Namun terkadang, kita tetap menganggap nilai itu tolak ukur kemampuan seseorang. Bahkan uang saja belum tentu membuat kita bahagia, apalagi nilai, yang hanya berlaku saat kita bersekolah.

Well, aku lebih suka uang daripada nilai, sih. Nilaiku hanyalah nilai rata-rata, biasa saja. Namun orangtuaku bisa dikatakan seperti konglomerat atau apalah itu. Dan aku sangat suka menabung. Menghemat, lebih tepatnya. Sehingga, uangku saat ini sudah terkumpul lumayan banyak dan bisa membeli barang-barang branded. Ya, aku suka sekali barang-barang branded atau original. Bukan untuk pamer, tapi hanya untuk kepuasan sendiri.

“Priscil! Ei, Priscilla!”

Aku menoleh ke belakang. “Kenapa?” Jawabku ketus. “Aku udah cari-cari kamu di sekolah tadi. Kamu kemana aja, sih? Kita kan harusnya pulang bareng,” Erlan cemberut. “Kamu kenapa sih, marah sama aku?” Aku menghela napas. “Emang sejak kapan kita harus pulang bareng? Biasanya juga engga.” Erlan terdiam. “Aku ngga ada maksud untuk ngelakuin gitu ke Zea… aku cuma penasaran, dan lagipula itu kan permintaan dari Himi.” “Penasaran apa? Cewe nerd kaya dia bakal gimana kalo urusan cinta-cintaan? Terus kamu anggep dia kelinci percobaan gitu? Dia itu temen baik aku, Erlan!” Aku berbalik dan berlari pulang ke rumah. “Priscil, tunggu, Priscil!” Teriakan Erlan tak kuhiraukan. Aku tetap berlari pulang ke rumah.

“Mbak… sedekahnya mbak..”

Sembari berlari aku melewati seorang ibu-ibu tua yang meminta-minta di pinggir gang. Namun aku tetap berlari. Sejujurnya, aku tidak merasakan simpati sedikitpun kepada orang-orang seperti mereka. Bagiku, mereka itu hanyalah para pemalas yang sewaktu muda berpikir untuk bergantung terus kepada pasangannya dan lebih baik di rumah tidak bekerja. Huh. Menabung itu perlu kawan, khususnya para cewek-cewek yang hanya memikirkan untuk mencari suami kaya di masa depan. Ya mana ada cowok kaya yang mau menikahi cewek-cewek yang nggak sepintar atau sesukses mereka? Berangan boleh, tapi jangan sampe kelewat batas. Sadar diri, situ ada yang mau?

Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar dan mengecek list barang-barang branded yang sedang kuincar. Hmm, tabunganku cukup untuk membeli album BTS yang terbaru. Lumayan, sekalian sama poster dan lain-lain. Sepertinya masih cukup pula untuk beli t-shirt BTS dan One Punch Man serta album CHiCO with HoneyWorks. Aku langsung membuka laptop dan mengorder barang-barang tersebut online.

Beginilah, kalau kita rajin menabung. Senang kan rasanya?

“Wah, barang-barang branded-mu sudah nambah lagi ya, disbanding seminggu yang lalu,” Sebuah suara yang super-duper-triple-infinite annoying membuatku terkejut. “Heck, ngapain kamu disini?” Tanyaku ketus. “Aku cuman mau minta maaf—“ “Jangan minta maaf ke aku, minta maaf sana ke Zea.” Erlan terdiam. “Iya, besok aku bakal minta maaf ke dia…” Erlan memandangi kamar Priscilla.

“Kamu beli barang-barang kayak begini emang mama papa kamu nggak marah?” “Nggak, aku pake uangku sendiri.” Erlan terdiam lagi. “Terus, kenapa tadi kamu engga ngasih sedekah ke ibu-ibu itu?” Suara Erlan berubah menjadi suara yang menyeramkan. Aku menatap Erlan dengan wajah horror. “Kamu—Kamu tau darimana—“ “Aku tahu semuanya, Priscilla. Kamu pikir orang-orang itu menjadi begitu karena pilihan mereka sendiri?” “A—Apa—“ Tiba-tiba sebuah cahaya menyilaukan mataku.

Ketika aku terbangun, aku berada di pinggir gang. Tempat ibu-ibu tua itu.

“Kruyuk..” Terdengar suara perutku yang kelaparan. Ketika aku berdiri, aku melihat pantulan diriku di jendela rumah orang… namun yang kulihat adalah ibu-ibu tua, bukan diriku. “Apa-apaan ini? Aku—aku jadi ibu-ibu tua itu??” Perutku semakin lapar, sangat lapar.

Kemudian, aku melihat diriku sendiri berjalan melewatiku.

Seketika aku menarik lengan baju”ku”. Namun “aku” mendorongku hingga aku jatuh tersungkur. “Aku” memandang diriku dengan wajah penuh jijik dan seketika itu hatiku sangat sakit. “Aku ini dirimu!” Teriakku dalam hati. “Aku tidak menjadi seperti ini karena aku ingin,” Pikirku, “Aku seperti ini pasti gara-gara anak itu—Erlan, tch.”

Tiba-tiba aku tersadar.

Semua hal yang telah kulakukan—membenci orang-orang yang tak mampu, menganggap mereka pemalas, dan lain sebagainya—semua itu akhirnya kurasakan sendiri. Lalu bagaimana aku bisa kembali ke tubuhku yang asli? Aku tidak bisa membayangkan akan bertahan dengan keadaan seperti ini. Aku tidak mau menjadi seperti ini. Seharusnya tidak ada orang yang seperti ini.

Aku hanya bisa menunduk, dan menangis tersedu-sedu. Sampai akhirnya seorang anak kecil datang dan dengan polosnya berkata, “Bu, kenapa nangis? Katanya mama, kalau nangis terlalu lama nanti bikin capek, terus katanya mama kalau makan permen bisa berhenti nangis… ini permen,” Ia memberikan sebuah permen lollipop kepadaku. Hatiku sangat tersentuh. “Terimakasih…” Aku tersenyum tulus.

Setelah anak itu pergi, aku merasa sangat mengantuk dan akhirnya aku tertidur.

Ketika aku bangun, aku sudah kembali di kamarku. Aku cepat-cepat melihat ke kaca. Yang kulihat adalah diriku yang asli, seorang Priscilla. Apakah itu semua hanya mimpi, pikirku. Tiba-tiba handphoneku bordering. Dari Erlan. “Halo?” “Pris… aku mau minta maaf, soal masalah Zea. Besok aku bakal minta maaf secara personal sama Zea sendiri,” Sahut Erlan. “Lho, bukannya, kamu tadi ke sini—“ “Hah? Kapan? Tadi kan kamu ninggalin aku pulang. Jangan-jangan kamu ketemu setan?” “Ah—engga, maaf, baru bangun tidur,” Diam-diam aku merasa lega Erlan berkata seperti itu. Berarti semua yang terjadi itu hanyalah mimpi.


“Pris, aku udah baikan sama Himi dan Erlan,” Zea terlihat senang.

“Haha, aku juga, dengan orang-orang itu juga,” gumamku.

“Eh? Kamu ngomong apa?”

“Engga, ngga apa-apa,”

“Ah, itu Erlan.” Zea melambaikan tangannya pada Erlan.

“Pagi Zea, Priscilla,” Erlan tersenyum kepadaku.

Ketika Erlan melewatiku, aku mendengar bisikannya, sangat lembut,

“Sudah kapok, kan?”

10 thoughts on “ 프리실라의 돈 – Peurisillaeui Don –

  1. I spent four years trying EVERYTHING in Online Dating, and through a huge amount of trial and error, I produced a system that I will share for you. This book will take you, step by step, through everything you need to know to double, triple or even quadruple the number of women you meet online.

  2. I travel all around the world for work, and it used to be really lonely. Now I can go onto Tinder and have a date lined up in a new city before I even get out of the airport!

  3. I wish to show some thanks to this writer for bailing me out of this problem. After surfing around throughout the internet and obtaining suggestions which were not helpful, I believed my life was over. Living without the presence of solutions to the issues you have solved all through your entire posting is a serious case, and ones which could have adversely affected my entire career if I had not encountered your web page. The capability and kindness in touching all things was priceless. I’m not sure what I would’ve done if I had not come upon such a point like this. I am able to at this moment look ahead to my future. Thanks for your time so much for the high quality and result oriented help. I won’t be reluctant to recommend your web blog to any individual who should get guidelines about this topic.

  4. I truly wanted to write a simple comment so as to express gratitude to you for some of the lovely pointers you are posting here. My prolonged internet look up has at the end of the day been honored with beneficial facts and strategies to go over with my pals. I would claim that we website visitors are undeniably fortunate to be in a very good website with very many wonderful professionals with insightful guidelines. I feel truly grateful to have discovered your entire website page and look forward to really more exciting minutes reading here. Thank you once more for a lot of things.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *