Ibu Kasih

Seorang wanita tua duduk di kursi kayu taman. Ia membawa sebuah kotak cokelat berbentuk hati. Kotak itu tampak usang dan warnanya pun sudah pudar. Namun jika kau memperhatikannya dengan lebih saksama, ada sebuah tulisan di tutupnya. Sebuah coretan dalam bahasa Italia. Tulisan itu berartikan cinta. Ia memandangi kotak tersebut, lalu sebuah senyum kecil muncul di wajahnya. Sejenak kemudian, ia memalingkan wajahnya ke sebuah sudut taman. Ia memicingkan matanya, memfokuskannya, hingga sadar bahwa kacamatanya masih tergantung di lehernya. Setelah memposisikan kacamatanya dengan nyaman, ia melihat dengan lebih jelas.

Seorang anak duduk di tanah, kesakitan memegang lututnya. Tangan kecilnya tak berhenti menekan area di sekitar lukanya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, walaupun begitu ia tidak menemukan siapapun. Teman-temannya masih bersembunyi. Mereka sedang memainkan suatu permainan yang bernama petak umpet. Ia yang bertugas mencari teman-temannya. Namun, ia jatuh tersandung akar semak-semak. Ia tidak ingin menangis, karena teman-temannya akan menganggap ia cengeng. Ia adalah anak laki-laki yang tangguh, begitulah pikirnya. Sesaat kemudian, ia mencoba berdiri. Ia melakukannya dengan sukses, hingga kakinya yang luka berdenyut. Ia hendak jatuh tetapi seseorang menggendongnya dari belakang. Ia menoleh dan menjumpai sebuah senyuman yang tak asing lagi baginya.

“Ibu Kasih!”

Ibu Kasih tersenyum. Saat itu, Monalisa pun takkan dapat menandingi senyumannya. Pancaran kasih dan rasa nyaman yang diberikannya bahkan membuat seekor burung bernyanyi lebih indah. Ia adalah seorang yang sangat baik hati.

“Sam, ayo kita pergi mencari teman-temanmu.” ujarnya dengan lembut.

“Aku tak mau, kalau mereka melihatku digendong seperti ini mereka akan menertawakanku.”

“Benarkah? Wah maafkan ibu, ibu akan menurunkanmu sekarang.”

“Tidak mau. Aku mau terus ibu gendong! Aku mau pulang.”

Ibu Kasih tertawa kecil. Ia lantas mendudukkan Sam di kursi kayu, lalu pergi ke balik pohon willow. Ada Jane disitu. Ia melihat Ibu Kasih dan raut wajahnya menjadi ceria. Kemudian ia lari mencari teman-temannya.

“Teman-teman, ayo keluar! Ibu Kasih sudah datang!”

“Apakah ia membawa manisan lagi?” tanya Jacob yang tiba-tiba muncul dari balik batu.

“Aku tidak tahu, aku langsung mencari kalian tadi.”

“Tentu saja ibu bawa, ia tidak pernah melupakannya untuk kita!” timpal Jamie yang muncul dari semak-semak.

“Kau benar, lebih baik kita bergegas. Aku tak mau ibu menunggu.” kata Jacob.

“Bagaimana dengan Sam?” tanya Jane.

“Aku yakin ia sudah bertemu dengan ibu, lagipula aku mendengar ada suara orang jatuh tadi. Itu pasti Sam.” balas Jamie.

Ketiga anak itu langsung berlari. Usia mereka sekitar 8 tahun, dan mereka kurus-kurus. Sam yang paling muda di antara mereka. Usianya baru 7 tahun. Perawakannya juga kecil, tetapi ia sangat tegas walaupun ceroboh. Keempat anak itu sering bermain di taman ketika siang hari. Mereka melepas penat dari segala kesibukan yang harus mereka jalani. Jika kau bertanya apa gerangan yang membuat sekumpulan anak berusia 8 tahun sibuk, maka inilah jawabannya : mereka adalah buruh pabrik tembakau. Suatu kenyataan yang pahit yang harus mereka terima, setidaknya sampai mereka berumur 21 tahun. Saat itu pemerintah berjanji akan memberi mereka pekerjaan yang lebih layak jika kinerja mereka bagus.

Pabrik tembakau kota itu adalah yang terbesar di seluruh negeri dan juga penyumbang keuntungan paling banyak. Kota itu sedang bangkit dari keterpurukan, dan tentu saja, butuh banyak uang. Perang saudara menghancurkan segalanya. Para pria tangguh dikirim untuk maju ke garis depan, sementara wanita menyuplai bahan makanan dari belakang. Sayangnya, ada perbedaan kekuatan yang sangat jauh dari pihak mereka dengan pihak pasukan utara. Utara memiliki teknologi yang jauh lebih canggih, didukung oleh kekuatan finansial dan pasokan makanan yang tak pernah habis. Namun, sekumpulan orang diantara mereka sangat serakah. Merekalah yang sekarang menjadi pemimpin negeri itu. Pada saat salah seorang diantara mereka terpilih menjadi presiden, rakyat selatan menolak untuk memberikan pajak hasil serta keuntungan dari pabrik tembakau. Mengetahui hal itu, murkalah mereka. Dan yang terjadi selanjutnya adalah sebuah noda hitam dalam sejarah panjang negara itu.

Ibu Kasih memandang mereka. Mata tuanya yang penuh kerutan menyiratkan sebuah kesedihan yang mendalam. Anak-anak itu tidak lagi memiliki orang tua. Ayah Jamie adalah yang terakhir bersama mereka. Ia dieksekusi karena menyuarakan penolakannya terhadap sistem kerja pabrik. Untuk itu juga, Jamie tidak diberi janji dipindahkan hingga umur berapapun. Jamie berumur 4 tahun ketika ayahnya meninggal. Ia tidak tahu apapun. Ia hanya merasa sedih. Pada waktu itu ia menangis. Ia menangis dalam pelukan Ibu Kasih. Keesokan paginya, ayahnya tak lagi mengetuk pintu kamar untuk membangunkannya. Tetapi Ibu Kasih mengetuknya. Ia memeluk Jamie dan mengajaknya minum susu cokelat panas. Ia menceritakan banyak dongeng. Dongeng-dongeng itu membuat Jamie terlelap. Saat itu, Jamie tertidur dengan senyum kecil di wajahnya. Ia datang ke rumah Jamie setiap hari. Ibu Kasih juga melakukannya ke anak-anak yang lain sebelum mereka semua dipaksa untuk tinggal di asrama pabrik.

Mereka berempat bukanlah satu-satunya anak-anak yang dipaksa untuk bekerja di pabrik. Banyaknya korban perang saudara membuat nyaris tidak ada lagi pemuda sehat yang dapat bekerja di pabrik. Anak-anak pun dijadikan solusi. Mereka membagi waktu kerja menjadi dua shift. Siang dan malam. Beberapa yang sakit-sakitan, diberikan waktu untuk bermain di taman pabrik di siang hari. Empat anak itulah mereka. Ibu Kasih sering mengunjungi mereka, membawakan manisan, dan bercerita tentang hal yang menyenangkan diluar sana, di dunia yang luas. Cerita itulah yang memberi mereka harapan, kekuatan. Mereka berempat selalu berjanji satu sama lain, mereka akan pergi dari kota itu dan berkelana mengelilingi dunia ketika dewasa. Bagaimanapun caranya.

Setiap hari, dalam kotak cokelat usang yang ia bawa, anak-anak selalu menemukan satu barang unik yang Ibu Kasih bawakan dari tempat yang sangat jauh. Kemudian, Ibu Kasih akan menceritakan sesuatu yang berhubungan dengannya. Pernah sekali ia membawa sebuah mutiara. Mutiara itu sangat indah dan berkilauan. Ibu Kasih berkata bahwa mutiara itu adalah tangisan tiram. Tiram menangis ketika ia terluka. Anehnya, semakin banyak lukanya, maka semakin indahlah bentuk mutiara itu. Tiram membuat sesuatu yang berharga dari luka yang ia terima. Luka itu disebut pengalaman. Manusiapun harus begitu. Pengalaman harus menjadikan mereka lebih kuat, dan mereka akan dapat membuat segala sesuatunya lebih indah. Ibu Kasih selalu mengawali ceritanya dengan sebuah pelajaran. Anak-anak itu bertubuh lemah, tetapi hati mereka harus kuat. Itulah yang Ibu Kasih inginkan. Setelah itu Ibu Kasih melanjutkannya dengan cerita tentang Pangeran Kerang dan Putri Tiram. Di akhir cerita, Ibu Kasih membuat sebuah untaian pada mutiara itu, lalu mengalungkannya ke leher Jane.

“Putri Tiram.”

Itu adalah pemberian paling berharga yang pernah Jane terima dalam hidupnya. Jane akan selalu menganggapnya sebagai hadiah dari orang tua-nya yang menghilang saat masa peperangan.

“Apa yang ibu bawa hari ini?” tanya Jane.

“Ini, adalah harta ibu yang paling berharga.”

Anak-anak memandangnya dengan keheranan. Jacob kemudian bertanya apakah ia boleh membukanya. Ibu Kasih tersenyum mengangguk. Mereka kemudian menemukan berlembar-lembar kertas yang sudah usang di dalamnya. Kertas itu berisikan tulisan dalam bahasa latin yang tidak mereka mengerti.

“Ibu sudah berkeliling dunia seumur hidup ibu. Kertas-kertas itu berceritakan perjalanan ibu.”

“Apakah kalian ingin mendengarnya?”

Mereka mengangguk.

“Ini dimulai dari sebuah negeri nun jauh di timur, tempat dimana semua kebahagiaan berasal…”

 

Singkat cerita, Florence adalah seorang putri bangsawan dari kerajaan jauh di timur. Sekitar umur 12 tahun, ia meninggalkan istana untuk berkelana melihat dunia. Ia mendengar tentang kemiskinan, kejahatan, ketidakadilan, dan hal-hal buruk lainnya di dunia ini. Ia ingin menyelamatkan mereka. Ia melihat glamor kehidupan bangsawan sangat tidak cocok dengan dirinya. Maka genaplah tekadnya ketika ibunya meninggal, saat tak ada lagi yang mendukungnya di istana. Ia berkelana, berjalan terus ke barat. Dalam perjalanan itu, ia menemukan banyak sekali penderitaan manusia. Ia sudah melalui banyak sekali perang. Wajahnya selalu diingat oleh korban peperangan sebagai gadis yang membawa lentera. Ia menjadi perawat sukarela di banyak aksi penyelamatan.

Saat usianya menua, ia sempat menetap di beberapa kota. Kota-kota itu dipenuhi bau kemiskinan, kejahatan, dan penderitaan. Florence merangkul mereka semua yang sakit, teraniaya, atau dihukum atas kejahatan mereka sendiri. Ia merawat mereka, menerima mereka, bahkan ia mencintai salah satu dari mereka. Orang itu sangat tinggi dan tampan. Ia menjadi narapidana karena disudutkan oleh seseorang. Mereka sempat berencana kabur, namun ketahuan. Florence harus menyaksikan orang yang ia cintai mati didepan matanya sendiri. Ia tetap menetap di kota itu. Ia bilang bahwa tugasnya belum selesai. Ia melakukan pekerjaan yang luar biasa sesudahnya. Ratusan orang ia selamatkan dari penderitaan. Bagaimana caranya? Dengan kelembutan hatilah ia memberikan keselamatan bagi mereka yang  menderita. Ia memberikan kenyamanan bagi narapidana, orang sakit, bahkan orang yang berada di ujung kematiannya sendiri. Mereka semua akhirnya dapat meninggalkan dunia dengan tersenyum. Ia menguatkan narapidana, dan memberi mereka pengakuan dan kesempatan untuk berubah. Mereka yang sakit, dikuatkannya dan harapan selalu ada dalam pikiran mereka. Orang-orang di kota itu berubah. Kota itu menjadi damai. Ia tak dapat menghentikan kejahatan, tapi ia memberikan sesuatu yang berharga. Ia memberikan kekuatan. Ia memberikan cinta. Ia memberikan kasih.

“Ibu Kasih.”

Dengan nama itulah orang-orang mengenalnya. Ia melanjutkan perjalanannya dan bersinggah di suatu kota dimana terdapat penderitaan. Sekali lagi, ia mengubah kota itu. Ia terus melakukannya hingga suatu saat, di umurnya yang ke-79, ia mendengar kabar tentang perang saudara di ujung barat. Ibu Kasih menemukan satu kota yang sangat terpuruk, tertutupi oleh kekelaman. Di sanalah Ibu Kasih menemukan Sam, Jane, Jamie, dan Jacob.

Saat ceritanya usai, Ibu Kasih menatap mereka. Ia memandangi satu-satu setiap dari mereka. Mata tuanya memancarkan kesedihan, tetapi dibaliknya terdapat harapan. Lalu ia berkata,

“Sekarang adalah giliran kalian.”

“Kalian memiliki harapan dan kekuatan, sebarkanlah cinta kasih di kota ini, lalu ke seluruh dunia.”

Ia menatap langit. Ia tersenyum. Dalam hatinya, ia sangat berterima kasih. Kepada siapapun di balik awan-awan itu, yang memberinya kesempatan untuk hidup dengan sangat indah. Ia sangat bahagia.

Ibu Kasih tak pernah datang lagi ke taman itu. Anak-anak mendapatkan kabar dari penjaga bahwa Ibu Kasih telah pergi. Ia telah pergi ke tempat yang amat sangat jauh.

 

Sepuluh tahun kemudian, keadaan kota itu berubah. Sistem kerja pabrik yang kejam ditiadakan. Anak-anak terbebas dari segala kekejaman pemerintah. Warga pun berbahagia dan setiap malam mereka bernyanyi bersama. Bagaimana dengan Sam, Jane, Jamie, dan Jacob? Mereka sudah tidak berada di kota itu. Tentu saja. Mereka berkelana, menyebarkan cinta kasih ke seluruh dunia.

11 thoughts on “ Ibu Kasih

  1. Thank you a lot for providing individuals with an extremely marvellous chance to read articles and blog posts from this web site. It is often very pleasant and as well , packed with amusement for me and my office colleagues to visit your website minimum thrice every week to study the new things you have. And lastly, I am also certainly happy with your remarkable solutions you give. Selected 2 areas in this article are undoubtedly the most effective we have all had.

  2. I together with my friends have already been looking at the great tactics located on the website and so before long developed a terrible feeling I never expressed respect to the site owner for those secrets. Those guys came as a consequence very interested to learn all of them and now have without a doubt been enjoying these things. Appreciate your really being well kind and then for having these kinds of good topics most people are really eager to discover. My very own sincere apologies for not expressing gratitude to you sooner.

  3. I precisely wished to appreciate you once again. I am not sure what I could possibly have worked on in the absence of the actual smart ideas revealed by you directly on that situation. Certainly was a challenging setting for me, but taking a look at a new expert style you managed it forced me to cry for gladness. Now i’m thankful for your help and even sincerely hope you comprehend what an amazing job that you’re undertaking educating most people through the use of your web page. Most probably you haven’t met any of us.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *